Kemenkes Konfirmasi 23 Kasus Hantavirus di RI, WHO Pastikan Tak Berpotensi Pandemi | Kesehatan | INERSIA.TV
Kesehatan
Kemenkes Konfirmasi 23 Kasus Hantavirus di RI, WHO Pastikan Tak Berpotensi Pandemi
Kemenkes RI mencatat 23 infeksi Hantavirus dalam tiga tahun terakhir. Pakar epidemiologi dan WHO menjamin sebaran virus ini tidak akan memicu pandemi layaknya Covid-19.
Ilustrasi Hanta Virus (Foto: Aabid)
JAKARTA, Inersia.tv – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi adanya 23 infeksi Hantavirus yang tersebar di sembilan provinsi Indonesia dalam tiga tahun ke belakang. Kemunculan patogen mematikan ini sempat memicu kekhawatiran masyarakat, meskipun para pakar dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjamin ancamannya tidak akan memicu pandemi baru.Sebanyak tiga pasien dari total keseluruhan kasus dilaporkan meninggal dunia, sementara 20 orang lainnya berhasil pulih dari paparan infeksi. Tingkat fatalitas penyakit zoonosis ini bertengger pada level 13 persen.Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, memaparkan rincian angka kelangsungan hidup para pasien."23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal," ungkap Aji.Sepanjang tahun 2026, otoritas kesehatan mendata lima laporan pasien baru yang terjangkit patogen ini. Penularan tertinggi sejauh ini berpusat pada pencatatan tahun lalu dengan 17 temuan, berbanding jauh dengan satu laporan kasus pada 2024.Varian virus yang mewabah di Tanah Air merupakan jenis Seoul virus, bukan tipe Andes virus yang sempat menjangkiti turis di kapal pesiar MV Hondius. Kasus di Indonesia paling banyak bercokol di DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan jumlah enam infeksi pada masing-masing daerah.Wilayah Jawa Barat menyusul pada urutan selanjutnya dengan lima riwayat penderita. Sementara itu, Provinsi Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara melaporkan satu infeksi per wilayah.Masyarakat diimbau untuk mewaspadai interaksi terbuka dengan habitat sarang tikus liar. Penyakit ini menular saat manusia menghirup partikel debu dari kotoran atau melakukan kontak fisik langsung dengan urine dan air liur hewan pengerat tersebut. Aji juga meredam kepanikan publik terkait potensi perembesan galur Andes virus dari luar negeri."Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus andes, yang antar manusia, tergolong rendah, jarang terjadi, terbatas umumnya di Amerika Selatan," lanjut Aji.Kewaspadaan internasional memang sempat memuncak pascainsiden Hantavirus yang membunuh tiga penumpang MV Hondius baru-baru ini. Kendati demikian, pakar epidemiologi dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, menjamin probabilitas patogen ini berevolusi layaknya Covid-19 sangatlah nihil.Alasan utamanya bertumpu pada inang primer patogen yang murni berasal dari binatang liar. Proses pemindahan virus antarmanusia juga terbukti sama sekali tidak efisien jika disandingkan dengan infeksi pernapasan massal lainnya."Ancaman hantavirus lebih berupa outbreak sporadis dengan fatalitas tinggi, bukan pandemi global yang menyebar cepat," ujar Dicky.Direktur Departemen Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, memberikan pernyataan resmi yang sejalan dengan analisis akademis tersebut."Ini bukan awal dari epidemi. Ini bukan awal dari pandemi," kata Maria Van Kerkhove.Petinggi lembaga kesehatan dunia tersebut menepis segala spekulasi yang membandingkan wabah terbaru ini dengan peristiwa enam tahun silam."Saya ingin menegaskan di sini: ini bukan SARS-CoV-2. Ini bukan awal dari pandemi COVID. Ini adalah wabah yang kita lihat di kapal (dan) ada area terbatas Tetapi ini bukan situasi yang sama seperti enam tahun lalu," katanya.